New Article

LAMAN

Selasa, 07 April 2015

SESAAT YANG BERMANFAAT, SEBUAH PERENUNGAN

 

Ditulis Oleh Al Ustadz Marwan

Perhatikanlah  dan renungkanlah tentang dunia ini dan tentang cepat berlalunya dunia ini.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ () وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya : Semua yang ada di bumi itu akan binasa.Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar Rahman : 26-27).

Setiap yang hidup di dunia akan mati, dan setiap yang kuat akan lemah, dan setiap yang baru akan usang, setiap yang ditempati akan roboh. Ayat-ayat di dalam Al Qur’anul karim sangat banyak menerangkan tentang peringatan dari ketertipuan terhadap perkara dunia, dan keterangan tentang cepat berlalunya dunia dan berbagai permisalan tentang perkara dunia. Sungguh Allah Ta’aala telah mengkhabarkan tentang akibat dan tempat kembali orang-orang yang kurang semangatnya kepada kehidupan akhirah dan ridho terhadap perkara dan kehidupan dunia, dan hanya menginginkan perkara dunia dan kemudian berpaling dari kehidupan akherat, firman Allah Ta’aala :
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ () أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) Pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus : 7-8).

Dan firman Allah Ta’aala :
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya : Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Huud : 15-16).

Dan dalam Shahihain dari nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau mengatakan ;
مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَة إلا كَمثل مَا يَجْعَل أحَدُكُمْ أصبعَهُ فِي اليَمِّ فَلْيَنْظر بِم ترجع .
Artinya : Tidaklah dunia itu dibandingkan dengan kehidupan akherat kecuali semisal seseorang yang memasukkan jarinya ke lautan maka hendaklah ia melihat dari apa yang kembali (jika jari tersebut diangka apa yang tersisa).

Dan dalam hadits yang lain :
الدُّنْيَا سِجْنُ المُؤمن وَجَنَّة الكَافِر
Artinya : Dunia itu adalah penjara orang-orang yang beriman dan jannah orang-orang kafir.
Hadits riwayat Muslim.

Al Hasan Basri pernah menulis surat kepada Umar bin Abdil ‘Aziz, ia mengatakan :
Amma ba’du, sesungguhnya dunia itu adalah tempat pemberangkatan dan bukanlah sebagai tempat tinggal. Dan Adam diturunkan ke muka bumi tidaklah lain karena sebagai hukuman, maka hati-hatilah terhadap dunia itu wahai Amirul mukminin, sesungguhnya berbekal dengan perkara dunia itu adalah dengan cara meninggalkannya dan kekayaan di dunia itu adalah kefakiran terhadapnya. Setiap saat ia menghinakan orang-orang yang memuliakannya, menjadikan kefakiran orang-orang yang mengumpulkannya. Ibarat racun yang dimakan oleh orang-orang yang tidak tahu, sedangkan ia akan membunuhnya. Hati-hatilah di negeri yang menipu dan memperdaya ini.

Jadikanlah puncak dari kebahagiaan anda di dunia adalah puncak kehati-hatian anda terhadap dunia. Seorang yang merasa puas dengan kesenangan dunia maka dunia itu akan membawanya kepada keburukan. Kebahagiaan dunia itu diikat dengan penderitaan, kejernihan dunia itu penuh dengan kekeruhan, kalaulah Allah Ta’aala tidaklah memberitakan dan tidak membuat permisalan mengenai dunia tersebut, niscaya ia dengan sendirinya akan membangunkan orang yang tidur dan menyadarkan orang yang sedang lalai. Dan sungguh telah datang cercaan dari Allah Ta’aala mengenai perkara dunia tersebut. Dan telah datang pemberi peringatan. Dan sungguh nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah ditawarkan kepadanya tentang kunci-kunci dan perbehendaraan-perbehendaraan , sesayap nyamukpun tidak dikurangi di sisi Allah Ta’aala tetapi beliau menolaknya, dan beliau tidak suka mencintai apa yang dibenci oleh Allah Ta’aala atau meninggikan perkara yang direndahkan oleh Penciptanya.

Allah Ta’aala menyempitkan bagi orang-orang sholeh untuk sebagai pilihan dan melapangkan bagi musuh-musuhNya sebagai tipu daya, sehingga orang-orang yang tertipu itu menyangka bahwa dirinya telah dimuliyakan dengan dunia, dan ia lupa terhadap apa yang telah dilakukan Allah Ta’aala terhadap RasulNya ketika beliau shallallahu’alaihi wa sallam mengikatkan batu pada perutnya. Demi Allah, tidaklah salah seorang dari manusia yang diluaskan baginya perkara dunia sehingga ia tidak takut, maka ia akan menjadi makar baginya, dan kalaulah tidak maka sungguh akalnya berkurang dan pikirannya lemah.

Sesungguhnya tercelanya dunia itu tidaklah mengarah kepada apa saja yang Allah Ta’aala ciptakan dari perkara-perkara yang memberikan kemanfaatan, makanan-makanan, minuman-minuman dan harat benda. Akan tetapi celaan dan peringatan itu mengarah kepada apa-apa yang dilakukan oleh anak Adam. Maka barangsiapa yang berbangga-bangga, ujub dengan perkara dunia serta melalaikan dari ketaatan kepada Allah Ta’aala dan melupakan kehidupan akhirat maka yang demikian ini tercela dan akan diadzab. Sebagaimana keadaan kaum ‘Aad ketika nabi Hud memperingatkan kepada mereka tentang adzab Allah Ta’aala :
فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ
Adapun kaum ‘Aad Maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? (Fushilat : 15).

Dan sebagaimana keadaan Fir’aun ketika Nabi Musa memperingatkan kepadanya :
وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Artinya : (seraya) berkata: “Hai kaumku, Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; Maka Apakah kamu tidak melihat(nya)?(Az-Zukhruf : 51).

Dan sebagaimana keadaan Qarun ketika Allah Ta’aala berikan kepadanya perbendaharaan dari harta benda yang melimpah :
إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ () وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ () قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
Artinya : (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al Qoshosh : 76-78).

Maknanya : Dengan sebab kecakapanku dan pengetahuanku, atau karena sungguh aku adalah yang paling berhak atasnya.

Maka orang-orang yang melihat terhadap perkara dunia ketika ia mendapatkan perkara dunia itu dengan kaca mata penglihatan sebagaimana tersebut, dan membawanya kepada sikap takabbur dan kerusakan di muka bumi, dan mengakibatkan lupa terhadap kehidupan akhirat maka yang demikian ini adalah tercela dan akan diadzab.

Adapun orang-orang yang menjadikan dunia ini dari sisi yang diperbolehkan dan dalam rangka untuk membantu dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’aala, dan tidak membawa kepada sikap angkuh, maka yang demikian ini adalah akan dibalas kebaikan dan berpahala, dan sebaik-baik harta benda adalah yang baik untuk seseorang yang sholeh. Sebagaimana sabda nabi shallallahu’alaihi wa sallam :
إنَّمَا الدُّنْيا لأرْبَعَة نَفَرٍ : عَبْد رَزَقَ اللهُ مَالا وَعِلْماً فَهُوَ يَتَّقي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِل فيه رَحِمَهُ وَيعلم فِيهِ حَقاً فَهَذا بأفضلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٌ رَزَقَ اللهُ عِلْماً وَلَمْ يَرْزُقه مَالاً فَهُوَ صادِق النِّية يَقُولُ : لَو أنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَملِ فُلان فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فأجْرُهُما سَواء. وَعَبدُ رَزَقَ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقهُ عِلْماً فَهُوَ يَتَخَبَّطُ فِي مَالِهِ بِغَيرِ عِلْمٍ لا يَتَّقي فِيهِ رَبَّهُ، وَلا يَصِل فِيهِ رَحِمَهُ وَلا يَعْلَمُ فِيهِ للهِ حَقاّ فَهَذَا بِأخْبَث المَنَازل، وَعَبدٌ لَمْ يَرْزُقه مَالاً وَلا عِلْماً فَهُوَ يَقُولُ : لَو أنَّ لي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلان فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرهُمَا سَوَاء.
Artinya : Sesungguhnya pada perkara dunia itu ada empat kelompok manusia :  Seorang hamba yang Alloh berikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu maka kemudian ia menggunakannya untuk ketaqwaan kepada Alloh, dan menyambung silaturohim dengannya, dan ia mengetahui hak Alloh atas harta tersebut maka hamba ini adalah pada seutama-utama kedudukan, dan seorang hamba yang Alloh berikan kepadanya ilmu dan tidak diberikan kepadanya harta benda dan ia benar niatnya, ia mengatakan : kalaulah aku memiliki harta maka aku akan mengamalkan sebagaimana amalan si fulan, maka dengan niatnya tersebut pahala keduanya adalah sama. Dan seorang hamba yang Alloh Ta’aala berikan baginya harta benda dan tidak diberikan ilmu baginya, dan ia menyia-nyiakan harta bendanya tanpa ilmu, dan tidak dipergunakan untuk menjalankan ketaatan kepada Alloh Ta’aala, dan tidak untuk menyambung rohimnya dan ia tidak mengetahui hak Alloh atas harta benda tersebut, maka ini adalah sejelek-jelek kedudukan. Dan seorang hamba  yang tidak Alloh berikan kepada mereka harta dan ilmu dan ia mengatakan ; kalaulah aku memiliki harta benda tersebut maka aku akan melakukan sebagaimana amalan yang dikerjakan oleh si fulan.
Hadits ini riwayat Ahmad dan Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Mayoritas dari kalangan manusia di saat ini, dunia telah melalaikan mereka dari kehidupan akherat. Dari kalangan mereka ada yang sibuk mengumpulkan harta benda dan mengembangkannya dan menyia-nyiakan dari apa yang Allah wajibkan dari shalat lima waktu dan peribadatan-peribadatan yang lain. Di antara mereka ada orang-orang yang sibuk dengan bersenang-senang dengan perkara dunia tersebut dan memberikan kepada jiwanya seluruh apa yang ia inginkan dari kelezatan-kelezatan dunia, dan berbangga-bangga padanya, dan melupakan akherat, dan kemudian ia menjadi tidak suka untuk mengingat akherat dan berat untuk berbicara tentang akherat, maka mereka ini menganggap bahwa seorang yang zuhud terhadap perkara dunia dan takut terhadap akherat adalah termasuk dari melalaikan keberadaan dunia di hati-hati mereka dan melalaikan mereka dari akherat. Maka bertaqwalah kepada Allah Ta’aala dan bersiap-siaplah untuk menghadap bertemu dengan Alloh Ta’aala.

Disarikan dari Kiab Khuthabul Mimbariyah asy-Syaikh Shalih Fauzan –hafizhahullah-.

Sumbersalafy.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates